gaji

…gajinya dikit Nan…

…gaji gw tetep gak bs mbeli kebahagiaan…

…emg sih kerjanya enak, tapi gajinya kurang enak…

…apalah artinya duit byk, kalo cm bs dinikmati sendiri…

(kutipan chat dgn bbrp org)

yang gajinya dikit, merasa kurang … yang gajinya byk, kurang bahagia…

kok kurang mulu ya :D

memanglah mnusia,kagak pernah bakal puas kali ye…

221107_1239

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (2:155)

3 Responses to “gaji”

  1. anik Says:

    umi nya rajin nyukur yah?
    kayaknya licin trs… :p

  2. Niqatz Says:

    coba sdikit mbahas.. ( http://zm.blogs.friendster.com/opo_wae_lah/2008/02/biismika.html ) mainly kenapa susah buat nrimo, tentang visualisasi keinginan. kalo kita tw apa yg kita pengen sebenernya, jangankan idup gampang idup susah utang sekranjang pun bakal tetep riang.

  3. Riri Says:

    MUSLIMAH KARIR
    Meluruskan Kembali Niat Kerja

    Wanita karir dalam segala levelnya, kian hari kian mewabah. Dari posisi puncak pimpinan negara, top executive, TKW, hingga kondektur bus, bahkan tukang becak.

    Hingga kini boleh di bilang nyaris tak ada jenis profesi yang belum terambah kaum hawa.

    Nampaknya, wanita pun telah meninggalkan kehidupannya yang khas pada era agraris. Pada era tersebut ia adalah makhluk rumah sejati. Ia mengasuh anak-anak dengan setia, juga berperan dalam perekonomian keluarga dengan aktivitas di ladang-ladang tradisional seputar rumahnya.

    Materialisme yang subur pada masa renaissance telah menggiring manusia pada era industrialisasi, pandangan baru ini melihat wanita dan pria sama saja kodratnya, yakni sebagai faktor produksi. Wanita pun akhirnya berduyun-duyun meninggalkan istananya, berbaur dengan pria memasuki pabrik untuk menjadi pekerja atau buruh dgn upah rendah. ketika itu pula mulai terdengar jerit tangis para balita yang di pagi hari sudah kehilangan ibunya.
    mungkin dengan bekerja sang ibu dapat membantu perekonomian keluarga membantu suami, denga pikiran, “lumayan bisa buat beli susu anak dan mainan.”. Namun tidakkah kita berfikir bahwa harga yang di bayar terlampau mahal dari hanya sekedar susu formula dan mainan anak-anak. Kasih sayang berkurang, kecemasan dan ketakutan anak-anak ketika di tinggal sang ibu, akan masuk ke alam bawah sadarnya mempengaruhi perkembangan pribadinya, hingga dewasa.
    Pendidikan Dien dan akhlak pun merupakan hal yang sangat sulit jika seharian hanya berinteraksi dengan pembantu atau dididik televisi.

    Mungkin ada juga yang beranggapan, “sayang dong, sekolah capek-capek tapi ilmunya tak di aplikasikan.”, suatu hal dilematis memang, jika kemudian wanita bekerja di dorong oleh tuntutan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah ia dapat.

    Lalu bagaimana dengan muslimah yang ingin berkarir? Hal ini tentu harus dipikirkan secara bijak agar tidak dilematis. Oleh karena itu wanita muslimah seharusnya mempelajari ilmu yg bermanfaat sesuai dengan kebutuhan wanita dan masyarakat walaupun tidak merupakan keharusan atau fardhu kifayah. Jika keadaan memaksa hingga wanita harus bekerja di luar rumah, islam memberi batasannya. Yaitu: harus seizin walinya (suami/ayah), tidak berkhalwat, tidak pamer kecantikan dengan berhias berlebihan, menutup aurat.

    Secara psikologis, gerakan emansipasi wanita telah berhasil memancing wanita di seantero bumi untuk berusaha menunjukkan eksistensinya.
    wanita memang hebat, banyak di antara wanita yg tidak kalah berhasil bahkan lebih berprestasi daripada pria. Di sisi lain, bisakah wanita menjadi “super women” yang sukses dalam menjalankan peran gandanya? Jika kemudian statistik menjadi angka kriminalitas, perceraian, perselingkuhan meningkat dikarenakan terabaikannya keluarga sebagai pendidikan moral yang utama, anak-anak mengalami frustasi, stress,depresi,prestasi menurun, narkoba, sungguh, lagi-lagi harga yang harus di bayar mahal.

    Untuk itu, ada kalanya kita perlu melakukan orientasi kembali, hakikat kerja di sela rutinitas yanga kita jalani, atas dasar niat apa? apa yang kita kejar? apa yang kita cari sebenarnya? apa gaji setiap bulannya? apa yang telah kita dapatkan? apa yang kita buru selama ini? apa yang telah membuat kita bahagia?

    Jika wanita mulimah tetap ingin berkarir, luruskan kembali niat kita, sungguh beruntung orang yang hari-harinya selalu di iringi oleh niat yang lurus dalam bekerja, semata-mata hanya untuk Allah, dengan begitu hati kita menjadi bening dan pikiran menjadi cerah, siapkan anak dengan pengertian yang baik, agar moral dan akhlaknya terjaga baik.
    Jika kita telah melakukan itu, maka kita menjadi orang paling kaya walaupun tanpa ukuran kepemilikan harta berlebih. Pasalnya kita sadar, bahwa potensi diri kita dalam bekerja akan di dedikasikan di jalan Allah dalam bentuk karya dan tegaknya kebenaran serta kesejahteraan sesama, meskipun tempat wanita sesungguhnya yang paling mulia adalah di dalam rumahnya, disanalah wanita senantiasa terlindungi dan dapat lebih dekat dengan Allah, mencari ridha Allah dengan beribadah kepada-NYA, mencurahkan segenap kemampuan untuk mendidik sang buah hati, mentaati suami, dan memberikan kasih sayang kepada anggota keluarganya.

    Wanita hebat bukanlah mereka yang harus bersaing berebut dunia dengan pria. Wanita yang sukses adalah yang bertanggung jawab dengan tugas utama yang di anugerahkan Allah atasnya: mendidik generasi tangguh masa depan.

    Bagaimana dengan kita? menjadi muslimah rumahan atau muslimah karir?

    Luruskan kembali niat berkarir dalam hati kita, bahwa apapun yang kita lakukan kita dedikasikan di jalan Allah, semata-mata mencari ridha Allah dengan batasan-batasan islami, sebab wanita karirpun bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya dan istri yang shalehah bagi suaminya.

    Segala sesuatu akan lebih baik jika di awali dengan nawaitu, ” Sungguh ajaib dan menakjubkan seluruh urusan kaum mukminin, sesungguhnya segala urusan pasti berakibat baik bagi mereka,”(hadist)

    Riri Rizal, Psi

Leave a Reply